20 Komikus Legendaris Yang Dimiliki Indonesia – WarkopAnime.com
Interest

20 Komikus Legendaris Yang Dimiliki Indonesia

Sebelum manga Jepang dan serial Superhero dari Barat mendominasi pasar komik di Indonesia, komik hasil karya anak bangsa pernah menjadi raja di negeri sendiri. Kelahiran serial komik berjudul Put On karangan Kho Wan Gie di tahun 1931 menjadi cikal bakal dari perkembangan jagad komik Indonesia yang kemudian menanjak pada masa jayanya, khususnya di era 60 hingga 80-an.

Tidak hanya dari segi kualitas gambar, kepiawaian para komikus Indonesia dalam mengolah warna-warni cerita mulai dari genre kolosal hingga romantika juga menjadi keunggulan yang membuat karya mereka tak lekang oleh zaman dan tetap mendapat tempat di hati penggemarnya. Jika anda ingin lebih mengenal dunia komik lokal secara mendalam, anda patut mengenal nama-nama komikus berikut ini. Selain menjadi legenda, hasil karya mereka juga menjadi tonggak yang membentuk ciri khas dan jati diri komik Indonesia modern.

1. A. Kosasih

Sosok yang dikenal sebagai “Bapak Komik Indonesia” ini lahir di kota Bogor pada tahun 1919. Latar belakangnya yang berdarah ningrat membuat Kosasih mendapat kesempatan untuk mengenyam pendidikan di Holland Indische School. Semasa sekolah, Kosasih gemar membaca literatur fiksi, dan yang menjadi favoritnya adalah kisah tentang Tarzan. Hal inilah yang mengawali kegemarannya pada dunia ilustrasi dan kemudian mengarahkan jalannya sebagai seorang komikus.

A. Kosasih

Setelah berkarir di harian Pedoman dan penerbit Melodi di Bandung, ia menerbitkan komik perdananya berjudul Sri Asih (1954), yang menjadi pelopor komik bertema cerita wayang. Kosasih juga sukses mengadaptasi kisah Ramayana dan Mahabharata, yang sempat diterbitkan ulang oleh PT Elex Media Komputindo pada tahun 90-an. Meskipun ia sudah pensiun di usia 74 tahun dan kemudian meninggal pada usia 93 tahun saat 2012 silam, karya-karyanya yang kental dengan nuansa tradisional tetap diapresiasi oleh berbagai generasi, sehingga tak heran jika banyak yang merasa kehilangan dengan kepergian sosoknya tersebut.

 

2. Ganes TH

Jika Kosasih dikenal sebagai pelopor komik wayang, Ganes TH. justru dikenal sebagai komikus cersil (cerita silat) pertama di Indonesia dengan karya fenomenalnya yang berjudul Si Buta dari Gua Hantu. Popularitasnya bahkan membuat komik ini diadaptasi ke layar lebar pada tahun 1970. Dengan setting Nusantara yang menonjolkan kecintaan Ganes akan tanah airnya, kisah Si Buta menjadi motor penggerak komik silat lain yang mengangkat tema serupa. Karya-karya lainnya yang juga terkenal antara lain adalah Kalijodo, Serial Reo Manusia Serigala dan Djampang Jago Betawi.

Ganes TH

Ganes TH

Sebelum berkiprah di dunia komik, Ganes TH. sempat tidak lulus kuliah karena kendala keuangan, bahkan pekerjaan remeh seperti menggambar tirai warung makan kaki lima juga pernah dilakoninya untuk menyambung hidup. Ia mendapat kesempatan untuk mempelajari teknik melukis ketika menjadi asisten seorang pelukis keturunan Tiongkok bernama Lee Man Fong. Pemilik nama lengkap Ganes Thiar Santosa ini wafat pada 10 Desember 1995 di usia 60 tahun setelah berkarya selama lebih dari dua periode.

 

3. Jan Mintaraga

Bisa dibilang, Jan Mintaraga adalah komikus yang cukup berani menampilkan gaya cerita dan goresan gambar yang berbau kebarat-baratan, dimana kala itu westernisasi masih belum menjadi tren di kalangan muda-mudi periode Orde Baru. Ciri itu dapat terlihat di semua hasil karyanya yang bervariasi, mulai dari genre cerita silat hingga seri-seri cerita roman Jakarta yang berpusat pada kisah-kisah cinta ala novel harlequin buatan Amerika. Penyandang nama asli Suwalbiyanto yang berasal dari Yogyakarta ini memulai debut karyanya di tahun 1965 dengan Cinde Laras (Arya Guna) dan masuk ke dalam jajaran komikus dengan bayaran termahal pada masa tersebut.

Jan Mintaraga

Jan Mintaraga 1

Jan rupanya juga pernah menimba ilmu dari komikus legendaris Indonesia, R.A. Kosasih, secara langsung. Bakatnya makin terasah dan namanya pun disejajarkan dengan rekan sejawatnya seperti Ganes TH. dan Teguh Santosa. Komik romannya yang paling populer adalah Sebuah Noda Hitam (1968) dan Tertiup Bersama Angin (1967) yang terinspirasi dari lagu milik Bob Dylan. Selain menggambar komik, Jan juga berprofesi sebagai ilustrator dan pernah menerbitkan buku berjudul Menggambar Tubuh Manusia sebelum akhirnya tutup usia di tahun 1999.

 

4. Zaldy Armendaris

Komikus yang aktif berkarya di tahun 1966-1971 ini telah menghasilkan lebih dari 60 judul komik yang ceritanya berpusat pada kisah-kisah cinta remaja di ibu kota. Karya-karyanya memiliki warna yang sama dengan karya Jan Mintaraga, yaitu unsur Americanism yang kental dan tertuang jelas dari penamaan dan penggambaran karakter yang rupawan, juga suasana setting dalam tiap-tiap ceritanya.

Zaldy Armendaris

Dari semua komik Zaldy yang pernah diterbitkan, dua diantaranya pernah difilmkan, yang pertama adalah Setitik Air Mata Buat Peter yang dirilis di layar lebar dengan judul Air Mata Kekasih (1971). Yang kedua adalah Fajar di Tengah Kabut yang diadaptasi menjadi film berjudul Ratna. Uniknya, meski konsisten di genre romantika yang banyak mengeksplor kisah cinta yang dramatis nan melankolis, Zaldy justru malah hidup sebagai bujangan hingga akhir hayatnya tiba.

 

5. Teguh Santosa

Bagi penggemar seri trilogi komik Sandhora (1969), pasti tidak asing dengan sosok Teguh Santosa. Komikus asal kota Malang yang hanya lulusan SMA ini mewarisi bakat seni dari kedua orang tuanya dan aktif dalam kelompok menggambar bernama Palet Hijau semasa sekolah. Saat bekerja di koran Gelora, Teguh diminta untuk menggambar komik berlatar sejarah yang menjadi momen penanda karirnya di dunia komik. Garis goresan gambarnya yang didominasi warna gelap membuatnya mendapat julukan King of Darkness (Raja Kegelapan).

Teguh Santosa

Kemampuan menggambar Teguh yang handal bahkan pernah membuatnya direkrut untuk bekerja di perusahaan Marvel Comics sebagai ink-man (peninta) yang bertanggung jawab untuk serial semacam Conan, Spiderman dan Alibaba pada tahun 1993. Ia adalah komikus pertama dari Indonesia yang pernah mencicipi pengalaman di kancah komik internasional. Untuk ide-ide cerita dalam karyanya, Teguh mengaku bahwa ia banyak terinspirasi dari kisah-kisah film yang pernah ia tonton. Namun sayang, akibat kanker ganas yang menyerang tangannya, Teguh terpaksa berhenti berkarya dan meninggal pada tanggal 25 Oktober 2000.

 

6. Hans Jaladara

Komikus yang melahirkan karya momentum yang berjudul Pandji Tengkorak di tahun 1968 sebagai tandingan komik Si Buta dari Gua Hantu karya Ganes TH. ini berasal dari kota Kebumen di Jawa Tengah. Kepiawaiannya dalam merangkai cerita merupakan hasil dari pengetahuannya yang luas berkat kegemarannya membaca. Untuk referensi adegan silat dan laga pun, karena pernah mempelajari kungfu dan judo semasa muda, Hans tidak memiliki kesulitan berarti saat menuangkannya dalam cerita komiknya.

Hans Jaladara

Hans Jaladara 1

 

Penggambaran karakter dan jalan cerita komik Pandji Tengkorak yang penuh lika-liku membuat sineas film melirik karya tersebut untuk disadur ke layar lebar pada tahun 1971. Hans juga sempat membuat versi terbaru dari cerita Pandji Tengkorak pada 1984 dan 1996, tapi karena popularitas komik Indonesia yang kian merosot sejak akhir era 80-an, Hans akhirnya memilih untuk menekuni dunia lukis agar tetap bisa berkiprah di dunia seni gambar yang telah menjadi bagian dari hidupnya. Banyak penggemar yang merasa kecewa atas keputusan Hans, tapi Hans sendiri mengaku bahwa ia masih tetap optimis menanti momen dimana komik lokal dapat meraih masa keemasannya kembali.

 

7. Hasmi

Harya Suraminata yang lebih dikenal dengan nama Hasmi (lahir di Yogyakarta, 25 Desember 1946) adalah salah satu komikus dan penulis skenario terkenal di Indonesia. Buah karyanya yang sangat populer adalah Gundala Putera Petir, seorang tokoh superhero pembasmi kejahatan dalam jagad komik Indonesia. Sebanyak 23 judul buku seri Gundala terbit antara tahun 1969 hingga 1982. Tokoh Gundala ia ciptakan setelah Maza yang telah lebih dulu muncul pada tahun 1968. Petualangan Gundala berakhir pada tahun 1982 dengan buku terakhir berjudul “Surat dari Akherat”. Sempat muncul kembali sebagai komik strip di Jawa Pos pada tahun 1988, namun tidak bertahan lama.

HASMI

Pak Hasmi terbiasa menggambar sejak masih duduk di bangku SMP BOPKRI 1 Yogyakarta. Setelah lulus SMA, Pak Hasmi awalnya bercita – cita menjadi insinyur, namun ia gagal melewati tes masuk teknik UGM. Pada tahun 1967 Ia mendaftar di Akademi Seni Rupa Indonesia, namun masa kuliahnya di ASRI hanya bertahan dua tahun dan berakhir pada 1968. Ia memutuskan untuk keluar karena waktunya habis tersita untuk serial Gundala yang sangat digemari kala itu. Pada tahun 1971 Pak Hasmi kuliah lagi di Akademi Bahasa Asing pada jurusan bahasa Inggris dan lulus pada tahun 1974. Pernah menjadi salah satu murid kesayangan dari perguruan BIMA (Budaya Indonesia Mataram), tetapi memutuskan untuk tidak aktif karena kesibukannya menggambar.

hasmii

Setelah Gundala Putera Petir tidak terbit, Hasmi banting setir menjadi penulis skenario, bahkan bintang tamu di sinetron. Sejumlah skenario film yang pernah ditulisnya antara lain Kelabang Sewu (disutradarai oleh Imam Tantowi), Lorong Sesat, Harta Karun Rawa Jagitan dan beberapa film lainnya. Selain itu ia aktif menulis skenario untuk acara ketoprak di TVRI Yogyakarta. Pak Hasmi juga adalah penulis paling produktif di teater STEMKA untuk acara TVRI Yogyakarta.

 

8. WID N.S.

Widodo Noor Slametyang populer dengan nama Wid N.S. (lahir di Yogyakarta, 22 November 1938 – meninggal di Yogyakarta, 26 Desember 2003 pada umur 65 tahun) adalah pencipta tokoh komik Godam. Komik Godam diciptakan oleh Wid N.S. dalam kurun waktu tahun 1969 hingga 1980 sebanyak 15 judul. Komik Godam terakhir yang seharusnya menjadi komik ke-16 yang berjudul “Ujian Buat Awang” belum terselesaikan karena kesehatannya yang terganggu sampai beliau meninggal dunia pada tahun 2003.

WID N.S.

Selain mencipta tokoh superhero Godam, Wid N.S. juga menciptakan tokoh komik Aquanus pada tahun 1968. Karakter komik lain yang diciptakannya adalah Kapten Dahana. Wid N.S. adalah Seniman otodidak yang ‘cuma’ lulusan SMP Negeri II Yogyakarta pada tahun 1956 itu tidak menamatkan pendidikan lanjutannya di SMA PPK Yogyakarta. Pak Wid pertama kali bekerja formal pada Jawatan Penerangan Bengkulu. Pernah pula bekerja di majalah Hai dan Bobo pada tahun 1981. Selanjutnya ia bekerja di TVRI Yogyakarta sebagai penulis skenario sandiwara. Nasib dan bakatnya membawanya ke dunia komik mulai tahun 1968. Komiknya yang pertama dibayar Rp. 7.500,- (tujuh ribu lima ratus rupiah).

WID N.S..

Pak Wid N.S. dan Pak Hasmi yang sudah saling mengenal sejak 1963 mempunyai selera yang sama pada fiksi ilmiah dan superhero. Mereka sering saling meminjamkan karakter komik dan cerita komik yang mereka ciptakan. Rumahnya di Yogyakarta berfungsi sebagai studio yang mereka namakan Studio Savicap. Savicap adalah kepanjangan Sagitarius, Virgo dan Capricornus. Tiga buah rasi bintang yang dimiliki oleh Pak Wid N.S., Pak Hasmi dan seorang temannya.

Wid N.S. menguasai banyak cabang kesenian seperti seni patung, relief, murel, seni lukis, teater, musik, lawak dan beberapa kesenian tradisional. Wid N.S. selau berusaha manampilkan sosok yang lebih natural dalam karya – karyanya. Godam yang beraksi di Indonesia digambarkan sebagai orang Asia. Kendaraan dan bangunan sangat jelas konstruksinya. Kemampuan dalam bertutur bisa menampilkan humor maupun suspense.

Wid N.S. selain meciptakan komik superhero seperti Godam, juga menciptakan komik silat maupun horor seperti “Anjing Setan de La Rosa” dan “Pengantin Rumah Kubur”. Karya – karyanya juga banyak dimuat di majalah – majalah anak Ananda seperti “Azis”. Penerbit komik Misurind menerbitkan komik sejarah “Ken Arok”, selain itu pernah bersama – sama komikus Indonesia yang lain seperti Pak Hasmi, Djoni Andrean, Hasyim Katamsi dan Marsoedi membuat komik tentang Serangan Umum 1 Maret 1949 berjudul “Merebut Kota Perjuangan” pada tahun 1983.

Beliau meninggal saat pembukaan “Pameran Ilustrasi Komik” karyanya di Balai Roepa Tembi, Yogyakarta yang diselenggarakan dari 26 Desember 2003 sampai 17 Januari 2004. Di galeri yang terletak di desa Timbul Harjo, kecamatan Sewon, Bantul, Godam hadir bersama beberapa tokoh lain dalam Pameran Ilustrasi Komik karya Wid N.S. Di antaranya Azis, anak cerdas yang kerap muncul di majalah Ananda pada 1980-an, Nyi Ageng Serang, Bocah Antlantis, hingga Ken Arok. Total karya yang dipamerkan 30 ilustrasi dan 25 jilid komik terbitan tahun 1968 – 1995.

Wid N.S. meninggal di rumahnya yang sederhana di perumahan Bale Asri, Wates, sekitar 10 kilometer arah barat Yogyakarta. Ia meninggalkan Suradinah, istrinya, empat anak (Hayuning Dewi Darjati, Fajar Sungging Pramodito, Prasidani Lintang Satiti, dan Anggoro Purnomosidi) serta tiga cucu. “Saat meninggal, Bapak baru saja menyelesaikan lukisan potret dirinya,” kata Sungging. Bahkan, tangan Pak Wid N.S. pun masih berlumuran cat. Putra Wid N.S., Fajar Sungging Pramodito pada tahun 2006 menciptakan komik Godam Reborn yang merupakan usaha menghidupkan kembali tokoh Godam.

 

9. Dwi Koendoro

Tokoh kelahiran Banjar 13 Mei 1941 ini, terlahir sebagai sosok multi-talenta. Masa kecilnya dihabiskan di Bandung. Dwi Koendoro jatuh hati pada dunia perfilman pada usia 6 tahun. Setiap ke pasar malam, yang ditongkronginya adalah film. Film – film kartun Walt Disney menjadi favoritnya. Bakat menggambarnya yang kuat, menjadi modal yang tidak sia – sia. Pada usia 14 tahun, hasil coretannya berupa kartun – kartun sudah menghiasi majalah Teratai yang terbit di Jakarta.

DWI KOENDORO

Selepas SMP di Surabaya, Dwi Koen menjatuhkan pilihan pada Sekolah Seni Rupa Indonesia di Yogyakarta, lalu berlanjut ke ilustrasi grafis di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta. Selama di ASRI ia sempat menjadi wartawan di harian Kedaulatan Rakyat. Kecintaannya pada animasi kartun, membuat ia belajar otodidak dengan berbagai cara. Membaca buku dan bereksperimen menjadi gurunya.

Tahun 1971, Dwi Koen pindah ke Jakarta. Kartun – kartunnya mengisi majalah Stop. Bertahan hingga 1972, akhirnya ia pindah ke biro iklan Intervista, dari karyawan biasa sampai menjadi art director. Lalu empat tahun kemudian, ia pindah ke Gramedia. Karirnya terhitung baik hingga dipercaya menjadi Kepala Bagian Produksi Gramedia Film.

DWI KOENDOROo

Akhirnya lahirlah Panji Koming pada 14 Oktober 1979 sebagai “pelepasan” kreatif dan segala uneg – unegnya dari sifat pekerjaannya di Gramedia Film yang lebih banyak menangani pekerjaan non kreatif. Tahun 1982 ia mengundurkan diri karena merasa kurang cocok di posisi tersebut. Tiga tahun kemudian, tepatnya 1985, Dwi Koen mendirikan PT Citra Audivistama – perusahaan yang bergerak dibidang film animasi, iklan, dokumentar dan slide program.

Pengalaman dan kreatifitasnya berbuah penghargaan Piala Citra sebagai sutradara terbaik untuk film dokumentar “Sepercik Kenangan, Segelombang Teladan” pada FFI 1981. Kini, 30 tahun sudah Panji Koming hadir setiap Minggu. Tokoh ini telah menjadi ikon karakter yang kritis tapi jenaka. Bisa menjadi insiprasi serta bahan perenungan dalam menyikapi kondisi bangsa Indonesia. Hingga saat ini beliau hampir tidak mengenal istilah weekend, karena setiap Sabtu “kelakar kritis” Panji Koming harus dikirim ke Kompas agar bisa terbit pada hari Minggu.

 

10. Kho Wang Gie

Komikus keturunan Cina bernama asli Kho Wang Gie, lahir di Indramayu, pada tahun 1908. Setelah menjadi murid pelukis Belanda Jan Franck dan van Velthuijzen (seperti Siauw Tik Kwie), ia mulai menggambar komik pada tahun 1930, di surat kabar Sin Po di Jakarta. Pada tahun 1931 ia mencipta tokoh humor Put On yang petualangannya muncul setiap minggu dalam bentuk komik strip. Setelah majalah Cina – Melayu itu mati, Put On yang sangat populer itu diterbitkan oleh surat kabar komunis, Warta Bhakti.

KHO WANG GIE

KHO WANG GIEE

Setelah meninggalkan Put On yang terlalu berwarna politis, Kho Wang Gie kembali menggambar sekitar tahun 1967, dengan menggunakan nama samaran Sopoiku (siapa itu) atau Soponyono (siapa sangka). Ia mencipta bermacam – macam tokoh, yang diilhami oleh Put On dan petualangan mereka diterbitkan dalam bentuk buku berseri (Nona Agogo, Djali Tokcher, Lemot dan Obud, Agen Rahasia 013 (Bolong Jilu), Dalip & Dolop dan sebagainya). Komik – komik yang dibuatnya juga tampil di majalah Ria Film (dengan tokoh si Pengky), Varia Nada dan Ria Remaja. Pak Kho Wang Gie meninggal dunia pada bulan Mei tahun 1983.

 

11. Djair Warni

Dia adalah satu dari “The Big Seven”. Djair Warni, komikus itu, menjadi salah satu dari tujuh besar karena karyanya Jaka Sembung, Djaka Gledek, Si Tolol, Kiamat Kandang Haur, Malaikat Bayangan, dan Toan Anak Jin. Seperti rekan – rekannya sesama “The Big Five”, Djair tergolong komikus otodidak. Ia sudah membuat komik sejak masih remaja. Padahal, dulu ayahnya menaruh harapan supaya Djair bercita – cita sebagai insinyur. “Waktu itu saya sering dimarahi Ayah karena lebih senang membuat komik daripada belajar. Akhirnya saya mencuri – curi kesempatan,” tutur Djair. Ia menggemari karya – karya Ganes T.H. (Si Buta dari Goa Hantu), Jan Mintaraga (Rio Purbaya), dan Hans Jaladara (Panji Tengkorak) ini.

DJAIR WARNI

Mungkin karena itulah komik – komik Djair juga memiliki pengaruh dari komikus yang dikaguminya; ia cenderung mengisahkan pengembaraan seorang pendekar dalam menegakkan kebenaran. Kisah pengembaraan para pendekar yang dianggap pahlawan itu lengkap dibumbui cerita kehidupan sehari – harinya, sehingga terasa membumi. Lihat saja Jaka Sembung. Berbeda dengan tokoh hero seperti Si Buta dari Goa Hantu atau Panji Tengkorak yang selalu berkawan dengan sunyi, Jaka Sembung justru digambarkan sebagai tokoh yang sudah berkeluarga. Atribut yang digunakan Jaka juga tidak seperti Si Buta, yang berpakaian kulit ular, melainkan baju biasa berlilit sarung. Begitu populernya hingga kisah Jaka Sembung itu sempat diangkat ke layar lebar dengan bintang Barry Prima.

DJAIR WARNII

Pada masa jayanya, penghasilan yang diperolehnya cukup untuk menghidupi istri dan ketiga anaknya. Maklum, untuk satu cerita terdiri dari 7 sampai 10 jilid ia memperoleh Rp 100 ribu, angka yang tinggi untuk ukuran tahun 1960-an. Sayang, zaman keemasannya sulit terulang kembali. Ia bahkan pesimistis, komik Indonesia bakal bisa bangkit kembali. Soalnya, “Sekarang sudah ada televisi, bioskop, mall dan video game. Anak – anak sudah terbiasa dicekoki komik – komik import terjemahan dari luar negeri,” kata Djair. Ia kini banting setir menekuni profesi di dunia sinetron dan film sebagai penulis skenario. Salah satu karyanya adalah skenario film Fatahillah yang dibiayai Pemerintah DKI Jakarta (1997).

 

12. Mansyur Daman

Mansyur Daman atau MAN dilahirkan di Jakarta pada tanggal 3 Juli 1946. Serial Mandala Siluman Sungai Ular adalah komik yang menjadi karya master piecenya yang paling terkenal di jagad komik tanah air. Dengan wajah ganteng, berjiwa luhur, badan yang tegap, ikat kepala serta memiliki ilmu yang tinggi (sakti) merupakan persyaratan lengkap untuk seorang jagoan. Konon Pak Man terinspirasi oleh wajah Robert Conrad, bintang film Amerika yang memerankan film seri televisi the Wild Wild West untuk wajah tokoh Mandala.

Komikus-komikus Legendaris Indonesia
Setelah komik Indonesia mencoba untuk bangkit kembali, Pak Man mulai kembali aktif membuat komik. Hingga saat ini (2012) sudah ada beberapa komik karya beliau yang diterbitkan dan menjadi buruan para pecinta komik tanah air. Kami lihat beliau termasuk salah satu komikus legendaris Indonesia yang masih tetap terus aktif membuat komik hingga saat ini! Salut buat Pak Man dan semoga Tuhan mengkaruniainya dengan umur panjang dan kesehatan!

Komikus-komikus Legendaris Indonesia

 

13. Nono G.M.

Pencinta komik era tahun 70-an, tentu kenal nama Nono GM. Ia komikus asal Yogyakarta yang banyak berdiskusi dengan seniornya, Hasmi dan Wid NS. Nono juga asyik dengan genre superheronya. Tak mengherankan, warna cerita Nono juga banyak dipengaruhi dua seniornya ini. Ia membuat karakter tokoh Tira, Tora, dan Boda. Namun, Tira yang membuat namanya dikenal. Judul karyanya antara lain Tira dalam Pasungan, Raksasa Super, Misteri Singgasana Monk, Perang, Cahaya Kehancuran dan 9 Pintu Naga.

Beberapa waktu lalu Hasmi bercerita, di masa kejayaan komik lokal, Nono kerap mendatangi Hasmi untuk saling tukar – menukar pikiran. Hubungan yang akrab membuat Nono leluasa menghadirkan tokoh – tokoh karya Hasmi seperti Gundala, Maza, Pangeran Mlaar atau tokoh karya Pak Wid N.S. seperti Godam dan Aquanus. Kehadiran bintang tamu yang jadi lokomotif genre superhero waktu itu, cukup mengangkat nama Tira. Akan tetapi, Nono lebih bangga tatkala Tira dan Tora muncul dalam karya Hasmi atau Wid N.S.

Dari sisi cerita dan gambar, Nono masih di bawah seniornya. Namun, ada satu kehebatan Nono yang diakui Hasmi sebagai suatu kemampuan yang luar biasa. Ceritanya, ketika komik Indonesia masih berjaya, Nono kena stroke. Tangan kanannya tidak bisa bergerak, sementara tangan kirinya masih bisa beraktivitas.

Komikus-komikus Legendaris Indonesia
Dalam kondisi sakit, semangat Nono untuk bikin komik masih tetap tinggi. Caranya, Nono yang tidak kidal ini melatih kekuatan tangan kirinya. Sampai akhirnya, ia bisa menggambar dengan tangan kiri, meski tidak sebagus ketika ia menggambar dengan tangan kanan. Nah, dengan tangan kiri, Nono melanjutkan kreativitasnya bikin komik dan berhasil diterbitkan. “Tapi, saya tidak ingat betul judul komik yang dibuatnya dengan tangan kiri,” kata Hasmi yang saat itu sempat menyambangi rumah Nono.

Sayang, Nono pada akhirnya tak kuasa melawan sakitnya. Ia meninggal dalam usia relatif muda. Semangat Nono seolah mengabarkan pesan, kreativitas yang tak pernah kunjung padam sampai ia tiada.

 

14. Zam Nuldin

Zam Nuldyn bernama asli Zainal Abidin Muhammad. Ia lahir di Labuhan Deli pada tanggal 31 Desember 1922. Ayahnya bernama Muhammad yang dulunya bekerja di Duane (pelabuhan Belawan).

Zam Nuldyn adalah komikus Medan yang pertama kalinya mempopulerkan genre cergam kepada khalayak ramai melalui koran yang terbit di Medan. Walaupun sejarah komik mencatat bahwa Nasroen A.S (tahun 30-an) sudah populer dengan gambar komiknya di surat kabar Sinar Hindia, namun gaya pencitraan komik Medan yang pertama kali memakai cerita rakyat sebagai tema adalah Zam Nuldyn.

Komik yang dihasilkan Zam Nuldyn bukan sekadar bertualang kata – kata antar tokohnya tetapi komiknya tersebut berhasil membuka mata kita tentang pentingnya petualangan lama untuk ditorehkan kembali pada masa kini. Semasa ia kecil jari – jarinya terbiasa menulis dan melukis tentang keindahan khayali. Karena hal ini ia lakukan terus menerus maka ia mempunyai warna tersendiri tanpa merasa menjadi korban keindahan rupa yang kosong. Zam Nuldyn tidak mempunyai seorang guru secara spesifik dalam mengajarkan ia melukis.

Bahwa karena ketekunannya sendiri melatih diri ditambah dengan bakat alam yang dimilikinya ia berhasil menuangkan berbagai macam imajinasinya ke atas kertas. Tahun 1939 ia mulai memasuki HIS Ivoorno Medan (Instituut Voor Neutral Onderwijs, SD berbahasa Belanda). Zam Nuldyn terakhir bekerja di kantor Deppen Sumatera Utara dan tinggal di jalan Seksama. Tahun 1955 ia masuk kuliah di Fakultas Hukum UISU (Universitas Islam Sumatera Utara). Kebiasaanya melukis tetap dijalaninya. Karyanya bisa dijumpai di Harian Waspada, Suluh Massa, Mimbar Umum, Sinar Revolusi dan Dobrak.

Komikus-komikus Legendaris Indonesia

Judul – judul komik yang dihasilkan Zam Nuldyn adalah : Merak Jingga, Sri Putih Cermin, Dewi Krakatau, Ratu Karimata, Dayang Suara, Sibalga, Paluh Hantu, Alang Bubu, Si Terjun, Detektif Bahtar, Panglima Denai, Gunung Toba, Gandawirama, Dora, Pangliam Taring, Buaya Gigi Mas, Mas Merah, Jam 5 Sore, Bogam, Putri Pucuk Klumpang, Cindur Mato, Sambalero, Srindit Terbang Malam, Datuk Seruwai dsb. Hampir semuanya tema komik tersebut menggunakan cerita Melayu kuno. Di dalam membaca semua komik Zam Nuldyn akan kita temukan suatu pesan moral yang kuat. Secara tersirat pesan itu melahirkan ajaran agar sebagai manusia kita jangan berbuat jahat.

 

15. Gerdi W.K.

Komikus dengan nama lengkap Gerdi Wirata Kusuma ini dilahirkan di Ciamis pada tanggal 13 April 1953. Sebagai komikus Gerdi W.K. telah membidani 3 (tiga) tokoh superhero yang menjadi masterpiece di tahun 70-an, yaitu Gina, Santini dan Boda. Gina yang berasal dari Kerajaan Turaba di Timur Tengah menjadi idola penggila komik karena disamping wajahnya yang cantik juga sakti dan bertubuh seksi. Sedangkan Santini merupakan jelmaan dari Santi sekaligus jagoan khas Indonesia.

Komikus-komikus Legendaris Indonesia
Adapun mengenai tokoh Boda juga mirip dengan Gina yang berasal dari Timur Tengah hanya saja ia laki – laki yang gagah perkasa. Keunggulan Gerdi W.K. adalah kemampuannya dalam menggambar postur tubuh wanita yang sangat detil, indah dan sensual.

Komikus-komikus Legendaris Indonesia
Sosok Pak Gerdi W.K. adalah pria yang rendah hati, karena hingga saat ini ia merasa bukan sebagai seorang komikus, melainkan keterlibatannya dalam komik Indonesia hanyalah sebagai penggembira saja. Pertama kali terjun ke dunia komik – mengomik juga lantaran di’paksa’ oleh salah seorang kawannya, yang mengatakan dengan sungguh – sungguh bahwa karyanya bisa dijual. Sayangnya Pak Gerdi lupa judul karya – karya awalnya itu. Prinsip hidup Gerdi W.K. adalah bekerja untuk menjadi orang yang mendapatkan gaji secara rutin, sehingga wajar apabila kemudian memutuskan konsentrasi sebagai illustrator di berbagai majalah anak – anak dan penerbit berbagai jenis buku.

 

16. Bani dan Nurmi Ambardi

Tak banyak kakak beradik yang sama-sama jadi cergamis seperti Banu dan Nurmi. Mereka termasuk generasi komikus tahun 70-an yang ikut memperkaya perjalanan komik nasional. Mereka pun sama-sama menekuni genre superhero. Berikut ringkasan proses kreatif mereka.

Kakak beradik, Banuarli Ambardi dan Nurmiadi Ambardi , masing – masing anak pertama dan kedua dari 8 bersaudara, lahir dari keluarga yang suka melukis. Ayah mereka, Ambardi, dikenal jago menggambar tokoh wayang. Sejak kecil, mereka sudah sering menyaksikan ayahnya melukis di rumah mereka di Jalan Ngeksigondo, Kotagede, Yogyakarta.

Komikus-komikus Legendaris Indonesia
TS cuma dapet foto Nurmiardi Ambardi, Banu belum..
Di masa itu dua paman mereka, Jan Mintaraga dan Harya Suryaminata alias Hasmi, sudah kondang sebagai cergamis papan atas Indonesia. Banu dan Nurmi sering mendengar cerita dua Oom-nya itu tentang dunia cergam. Bahkan goresan – goresan gambar Pak Jan (Mintaraga) dan Hasmi terekam kuat dalam benak mereka. Secara tidak langsung, Banu dan Nurmi menyerap ilmu dari kedua pamannya itu. “Saya sering menyaksikan komik – komik Oom Jan dan Oom Hasmi. Secara tidak langsung, saya belajar dari mereka. Saya terus berproses sampai akhirnya sanggup membuat komik sendiri!” ujar Banu.

Komikus-komikus Legendaris Indonesia
Ya, Banu dan Nurmi di masa mudanya memang tergerak untuk menjadi cergamis. Mereka sama – sama memilih spesialis genre superhero. Banu dan Nurmi sama – sama menggubah dua superhero yang di masanya cukup dikenal (Nurmi menciptakan tokoh superhero Bantala dan Elang Biru, sedangkan Banu menciptakan Herbintang dan Untara).

 

17. Siauw Tiek Kwie

Otto Swastika (Siauw Tik Kwie) dilahirkan pada tanggal 21 Juni 1913 di kota Surakarta. Pendidikan yang diperolehnya adalah dari Sekolah Tiong Hoa Hwe Kuan, yaitu sekolah bagi golongan Timur Asing – Cina pada masa penjajahan Belanda. Di sekolah inilah ia mendapatkan pelajaran seni rupa dari guru – guru yang hebat dan ia pun sangat berbakat.

Komikus-komikus Legendaris Indonesia
Selain bakat melukis yang kian terasah, ia juga belajar filsafat dari Khong Hu Cu (Confussianisme). Ditambah lagi dengan hobbynya membaca buku – buku legenda Cina seperti Hong Sin, Sam Kok, Sie Jien Koei, Si Kiong, Gak Hui dan lain sebagainya. Ia belajar memvisualisasikan tokoh – tokoh dalam legenda itu hanya untuk iseng kemudian diberikan kepada teman – temannya.

Pindah dari Surakarta ke Jakarta membawanya berkawan dengan Kho Wang Gie (komikus Put On), Lee Man Fong dan lain – lain. Sehingga menambah luas cakrawala dunia gambar – menggambarnya. Ia melukis komik untuk surat kabar Sing Po, Majalah Liberty Malang, Starmagazine Jakarta, mingguan Star Weekly dan masih banyak lagi.

Komikus-komikus Legendaris Indonesia
Atas saran dari Auwyang Peng Koen (PK Ojong) yang termasuk pendiri harian Kompas, Sieuw Tik Kwie diminta untuk melukis Sie Djin Koei. Dan ia pun menyanggupinya. Kelar dalam waktu yang cukup lama, yaitu sekitar 7 tahun.

Sebagai pelukis, Siauw Tik Kwie pernah empat kali mengadakan pameran tunggal di Balai Budaya, Jakarta. Pamerannya yang terakhir diadakan pada 1980 dan diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan waktu itu, Dr. Daoed Joesoef dan disponsori oleh Jusuf Wanandi SH (Liem Bian Kie, SH).

Siauw Tik Kwie adalah komikus besar dengan coretan berdasarkan wayang potehi. Dwilogi karyanya yang monumental, Sie Djin Koei Tjeng Tang (Sie Jin Kui Menyerbu ke Timur) dan Sie Djin Koei Tjeng See (Sie Jin Kui Menyerbu ke Barat), semula dimuat seminggu sekali di majalah Star Weekly.

Oom Siauw memang bekerja sebagai illustrator cerpen, cersil, dan cerdek, di majalah tersebut. Selain itu juga melukis sampul buku – buku cersil yang diterjemahkan oleh OKT seperti Kim Tjoa Kiam, Tjie Hong Piauw, Giok Lo Sat dan Pek Hoat Mo Lie. Ciri khas lukisannya, tokoh pendekar prianya gagah keren, pendekar wanitanya cantik galak.

Ada rencana melanjutkan dengan serial Hong Kiauw – Lie Tan (Kisah Sie Kong, cucu Sie Jin Kui), malangnya majalah Star Weekly (entah karena apa) mendadak dibredel! Belakangan Oom Siauw memakai nama Otto Swastika dan menjadi pelukis kanvas sampai meninggal dunia.

 

18. TATANG S.

Tatang S. bernama lengkap Tatang Suhendra. Pada tahun 1970-an, kabarnya ia pernah menjadi komikus yang bayarannya paling tinggi di Bandung. Ketika itu ia dikenal sebagai komikus cerita – cerita silat. Karena ambisinya dalam mencipta komik sangat besar, tidak jarang ia sering ‘berbenturan’ dengan rekan – rekannya sesama komikus. Kasus yang menonjol adalah ketika ia terlibat ‘perang komik’ dengan Ganes TH. Ganes merupakan seorang komikus yang kesohor dengan karyanya, ‘Si Buta Dari Goa Hantu’.

Komikus-komikus Legendaris Indonesia

Pada suatu ketika, Ganes pindah dari sebuah penerbitan. Penerbit tersebut tak terima dan sakit hati dengan kepindahan Ganes. Tak lama kemudian Tatang direkrut oleh penerbit itu untuk menyaingi komik sohor karya Ganes. Tatang lalu membuat komik ‘Si Gagu dari Goa Hantu’ untuk menyaingi ‘Si Buta dari Gua Hantu’-nya Ganes.  Lalu apa yang terjadi? Ternyata komik karya Tatang ini cuma beredar sebanyak tiga edisi sampai akhirnya dibredel. ‘Si Gagu dari Goa Hantu’-nya Tatang membuat dunia perkomikan Indonesia gempar. Secara tidak langsung, Tatang telah menjadi korban pemainan penerbit, sehingga karir Tatang sebagai seorang komikus silat hancur.

Komikus-komikus Legendaris Indonesia
Karir Tatang kembali bersinar setelah ia membuat komik dengan tokoh Punakawan (Gareng, Petruk, Semar, Bagong). Pada 27 April 2003, Tatang S. meninggal dunia. Menurut sejumlah rumor yang beredar, ia meninggal karena penyakit kencing manis. Penyakit ini diderita lantaran Tatang yang sering bekerja pada malam hari ketagihan meminum minuman bersoda. Meski kehidupannya diliputi misteri, Tatang telah mendedikasikan seluruh hidupnya untuk dunia komik Indonesia.

19. G.M. Sudharta

Bernama lahir Gerardus Mayela Sudarta, namun setelah berganti keyakinan ia merubah namanya menjadi Gafur Muhamad Sudarta. lahir di Klaten, Jawa Tengah, 20 September 1945. Lahir dan besar di lingkungan keluarga yang memegang teguh adat Jawa, ia dikenal sebagai kartunis dengan karikatur tepo seliro (tenggang rasa). Gambar – gambar karikaturnya walau men’cubit’ namun tetap mengundang senyum. Menurutnya, sebuah karikatur dinilai berhasil bila dapat mengkritik tanpa menyinggung suatu pihak.

Komikus-komikus Legendaris Indonesia
Usai menamatkan SMA di Klaten, tahun 1965, ia meneruskan pendidikan ke ASRI Yogyakarta. Semasa kuliah, seniman yang kini giat melukis lagi sempat menjadi kartunis di majalah Merah Putih, Jakarta 1966. Di tahun yang sama, bekerja sama dengan Pramono mendesain diorama Monumen Nasional. Ia juga ikut andil dalam desain pembangunan Monumen Pahlawan Revolusi Lubang Buaya. Sebagai karikaturis GM Sudarta peka menangkap berbagai fenomena sosial, ekonomi, politik dan budaya di tanah air. Sejak awal menapaki karir sebagai pengisi kolom karikatur kompas di tahun 1967 hingga kini, GM Sudarta telah melahirkan ratusan karya. Namun namanya sudah terlanjur identik dengan Oom Pasikom yang kerap menyapa para pembaca harian Kompas. Lewat Oom Pasikom, GM Sudarta mengemas isu-isu aktual yang terjadi di tanah air maupun manca negara. Ia secara memikat mampu melontarkan celetukan-celetukan cerdas bahkan sering kali mengejutkan. Baginya, peristiwa demi peristiwa merupakan sumber inspirasi yang tak pernah surut.

Komikus-komikus Legendaris Indonesia
Daya kreatifitasnya semakin terpacu tatkala masa pemerintahan Orde Baru berakhir. Reformasi memberikan banyak ide segar. Rasa marah, sedih, dan kesal ia tuangkan ke atas kertas. Peraih penghargaan Adinegoro 1983 dan 1984 ini lebih banyak menghabiskan waktu di kediamaan yang asri di Klaten dan ia membangun Graha Budaya Sekartaji sebagai konstibusi konkrit bagi masyarakat Klaten.

 

20. Keliek Siswoyo

Boss Doyok atau penciptanya adalah seorang pria berusia menjelang senja, Keliek Siswoyo, kelahiran Kota Gede, Yogyakarta. Di masa remajanya ia merantau ke Jakarta menantang nasib. Ia terlunta-lunta di Tanjung Priok, dan tempat nongkrongnya adalah di sekitar Bioskop Permai yang terletak di pinggiran by pass. Di sana para pengangguran, setengah pengangguran dan mereka yang ingin bebas dari kekangan rutinitas berkumpul. Keliek Siswoyo memiliki bakat melukis dan membuat kartun sejak duduk di SMP. Akan tetapi ia belum berani mengirimnya ke media cetak. Ketika nongkrong di Bioskop Permai itu bersama teman-temannya yang berasal dari berbagai suku, Keliek melihat ada Surat Kabar Harian Pos Kota, satu koran ibukota dengan bidikan pasar kalangan bawah.

Komikus-komikus Legendaris Indonesia
Pasar Pos Kota adalah kalangan di mana Keliek Siswoyo hidup, sehingga dengan mudah ia turn in ke dalam isi berita harian tersebut. Setiap minggu Pos Kota menyediakan ruangan bagi kartunis muda untuk menampilkan karyanya, lewat Pos Kota Minggu. Ke sanalah Keliek kemudian mengirimkan gambar-gambarnya dan sering dimuat. Pengasuh rubrik itu adalah pelukis dan juga kartunis senior Leo Purwono. Ia melihat ada kepekaan sosial dalam kartun karya Keliek Siswoyo. Pos Kota kemudian menerbitkan Lembaran Bergambar (Lembergar), yaitu sisipan dua kali seminggu berisi kartun, lukisan, komik, vignet, puisi bergambar dan sebagainya.

Melihat sambutan pasar begitu antusias, maka pimpinan koran tersebut menerbitkan Lembergar setiap hari. Leo kemudian memanggil Keliek untuk bergabung, menciptakan tokoh kalangan bawah yang kritis terhadap keadaan sekitarnya.

Komikus-komikus Legendaris Indonesia
Mas Keliek Siswoyo banyak bicara bila dipancing tentang dunia musik atau film, terutama musik dan film di era 1970-an dan 1980-an yang banyak dinikmatinya. Juga saat dimintai tanggapan pada isu-isu sosial politik yang disaksikannya di teve dan termuat di koran.
Kelucuan Mas Keliek ada pada karyanya, pada gambar-gambarnya. Pada tokoh Doyok, yang sering tampil dalam kisah-kisah sarkastis. Kritik sosial yang disampaikan dengan nada pahit, sarkasme.

Sejak akhir 1976, warga Jakarta dan sekitarnya, dihibur oleh karya Mas Keliek, yaitu sejak tokoh Doyok ini lahir atas saran pendiri Pos Kota, H. Harmoko. Doyok terus tampil hingga akhir hayatnya.

Kartunis media lain menghormatinya sebagai seniman produktif yang tak pernah berhenti berkarya, ketika mereka hanya bisa tampil sesekali, atas pertimbangan halaman atau upaya menjaga kualitas. Mas Kelik adalah pekerja seni, yang hadir setiap hari.[warkopanime/FO/robi]

 

Source : KasKus

loading...
Click to comment
To Top