Adat Dan Tradisi Pernikahan Di Jepang – WarkopAnime.com
Interest

Adat Dan Tradisi Pernikahan Di Jepang

Sama seperti Negara Indonesia, di Negara Jepang juga terdapat banyak prosesi atau tata cara pernikahan. Namun banyak pasangan yang memilih menggunakan prosesi pernikahan secara ritual tradisi Shinto. Tradisi Shinto adalah kepercayaan tradisional masyarakat Jepang dan merupakan agama yang paling popular di Jepang disamping agama budha.

Upacara pernikahan Shinto sifatnya sangat pribadi, hanya dihadiri oleh keluarga dan kerabat dekat. Seringkali diadakan di sebuah tempat suci atau altar suci yang dipimpin oleh pendeta Shinto. Banyak hotel dan restauran yang dilengkapi dengan sebuah ruangan khusus bagi upacara pernikahan.

Jalannya upacara pernikahan Shinto di Jepang:

1. Pasangan dimurnikan oleh pendeta Shinto

2. Ritual san-sankudo dimana mempelai perempuan dan pria bergiliran menghirup sake masing-masing menghirup sembilan kali dari tiga cangkir yang disediakan.

3. Mempelai mengucap janji yang disaksikan oleh keluarga mereka yang salah berhadapan (umumnya kedua mempelai yang saling berhadapan). Setelah itu, anggota keluarga dan kerabat dekat dari kedua mempelai saling bergantian minum sake, menandakan persatuan atau ikatan melalui pernikahan.

4.  Upacara ditutup dengan mengeluarkan sesaji berupa ranting Sakaki (sejenis pohon keramat) yang ditujukan kepada Dewa Shinto.

Tujuan kebanyakan ritual Shinto adalah untuk mengusir roh-roh jahat dengan cara pembersihan, doa dan persembahan kepada Dewa.
Prosesi singkat ini sederhana dalam pelaksanaannya namun sungguh-sungguh khidmat. Maknanya untuk memperkuat janji pernikahan dan mengikat pernikahan fisik kedua mempelai secara rohani.
Apabila sepasang mempelai Jepang ingin melaksanakan pernikahan tradisional Jepang yang murni, maka kulit sang mempelai perempuan akan dicat putih dari kepala hingga ujung kaki yang melambangkan kesucian dan dengan nyata menyatakan status kesuciannya kepada para dewa.

Wedding_kimono_1

Mempelai perempuan umumnya akan diminta memilih antara dua topi pernikahan tradisional. Satu adalah penutup kepala pernikahan berwarna putih yang disebut tsuni kakushi (secara harafiah bermakna “menyembunyikan tanduk”). Tutup kepala ini dipenuhi dengan ornamen rambut kanzashi di bagian atasnya di mana mempelai perempuan mengenakannya sebagai tudung untuk menyembunyikan “tanduk kecemburuan”, keakuan dan egoisme dari ibu mertua – yang sekarang akan menjadi kepala keluarga.

Wedding_kimono

Masyarakat Jepang percaya bahwa cacat karakter seperti ini perlu ditunjukkan dalam sebuah pernikahan di depan mempelai pria dan keluarganya.
Penutup kepala yang ditempelkan pada kimono putih mempelai perempuan, juga melambangkan ketetapan hatinya untuk menjadi istri yang patuh dan lembut dan kesediannya untuk melaksanakan perannya dengan kesabaran dan ketenangan. Sebagai tambahan, merupakan kepercayaan tradisional bahwa rambut dibiarkan tidak dibersihkan, sehingga umum bagi orang yang mengenakan hiasan kepala untuk menyembunyikan rambutnya.
Hiasan kepala tradisional lain yang dapat dipilih mempelai perempuan adalah wata boushi. Menurut adat, wajah mempelai perempuan benar-benar tersembunyi dari siapapun kecuali mempelai pria. Hal ini menunjukkan kesopanan, yang sekaligus mencerminkan kualitas kebijakan yang paling dihargai dalam pribadi perempuan.
Mempelai pria mengenakan kimono berwarna hitam pada upacara pernikahan.

Wedding_kimono_2
Ibu sang mempelai perempuan menyerahkan anak perempuannya dengan menurunkan tudung sang anak, namun, ayah dari mempelai perempuan mengikuti tradisi berjalan mengiringi anak perempuannya menuju altar seperti yang dilakukan para ayah orang Barat.
Seperti umumnya di Indonesia, para tamu yang diundang pada pesta pernikahan di Jepang, perlu membawa uang sumbangan dalam dompet mereka. Hal ini karena mereka diharapkan memberikan pasangan goshugi atau uang pemberian yang dimasukkan dalam amplop, yang dapat diberikan baik sebelum atau sesudah upacara pernikahan.
Di akhir resepsi pernikahan, tandamata atau hikidemono seperti permen, peralatan makan, atau pernak-pernik pernikahan, diletakkan dalam sebuah tas dan diberikan kepada para tamu untuk dibawa pulang.

Jika kita menerima surat undangan pernikahan dari seorang teman warga negara jepang, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:

1. Menjawab Undangan Pernikahan
Setelah undangan diterima, diharuskan kita segera membalas isi undangan tersebut, dengan mengirimkan kartu pos apakah dapat hadir atau tidak.

1A. Jika Tidak Dapat Hadir

a. Dalam kartu pos kita tulis ucapan selamat & alasan tidak bisa hadir, misalnya;
“Kekkon omedetou gozaimasu. Zannen nagara, toujitsu wa kaigaishucchou no tame,
shussekisuru koto ga dekimasen. Douzo oshiawase”.
(Selamat atas pernikahan anda. Sayang sekali, pada hari tersebut saya tidak bisa
hadir karena ada tugas ke luar negri. Semoga berbahagia).

b. Mengirimkan hadiah tanda ikut bergembira. Tetapi perlu diingat, ada beberapa barang yang tidak bisa diberikan karena dipercaya orang jepang dapat merusak kehidupan rumah tangganya kelak, yaitu;

– Pisau, gunting, dll, barang yang dapat memutuskan sesuatu, karena khawatir akan
memutuskan ikatan pernikahan kelak.
– Barang pecah belah sepeti gelas kaca, keramik, dll karena khawatir akan memecah
belah kerukunan berumah tangga.

1B. Jika Dapat Hadir

a. Dalam kartu pos kita ucapan selamat & terima kasih atas undangan tersebut,
misalnya;
“Kekkon omedetou gozaimasu. Yorokonde shussekisaseteitadakimasu”.
(Selamat atas pernikahan anda. Dengan senang hati saya akan menghadirinya).

2. Pakaian Yang Digunakan
Pakaian yang digunakan, untuk pria black suit, untuk wanita gaun, kimono,
atau pakaian daerah lainnya.

3. Mempersiapkan Hadiah Pernikahan Berupa Uang
– Mempersiapkan uang yang disebut “Goshuugi” (congratulatory monetary gift) yang
dimasukan ke dalam amplop khusus yang disebut “Shuugibukuro” (congratulatory
envelope). Kira-kira uang yang diberikannya adalah 20 ribu-30 ribu yen jika teman
kantor.

– Goshuugi tersebut diberikan kepada resepsionis pernikahan sambil mengucapkan
salam persahabatan, misalnya;
*Honjitsu omedetou gozaimasu… Kokorobakari no oiwaidesu”.
(Selamat… ini sedikit hadiah untuk mempelai).

4. Sambutan (Speech) & Pembawa Acara (MC)
Jika kita diminta untuk memberikan sambutan atau sebagai pembawa acara,
ada beberapa kata yang tidak boleh diucapkan, yaitu:

Wakareru (berpisah), owaru (berakhir), hanareru (berjauhan), kiru (memotong) karena
khawatir hal tsb akan terjadi dalam rumah tangga kelak.
Contoh;
– Ucapan penutup acara pernikahan
(X) Hiroen o owari ni shimasu (Kita akhiri upacara ini) — diganti menjadi –>
(O) Hiroen o ohiraki ni shimasu (Kita tutup upacara ini).

– Ucapan ketika mempersilakan memotong kue
(X) Wedingu keeki o kiru ( silakan memotong kue) — diganti menjadi –>
(O) Wedingu keeki ni naifu o ireru (silakan memasukan pisau ke wedding cake).

5. Pesta Lanjutan (Nijikai)
Setelah upacara pernikahan tersebut selesai, beberapa kerabat atau sahabat dekat
akan diundang ke pesta lanjutan yang disebut “Nijikai” (post reception party).

6. Ucapan Perpisahan
Setelah upacara/ pesta pernikahan selesai, kita berpamitan pada mempelai
dengan mengucapkan salam perpisahan, misalnya:
“Oshiawaseni… Totemo tanoshii paatii deshita”.

 

* Beberapa Ucapan Selamat Kepada Mempelai *
– Kekkon omedetou gozaimasu. Suenagaku oshiawaseni
(Selamat atas penikahan anda. Semoga awet dan berbahagia)
– Kekkon omedetou gozaimasu. Ofutari no mirai ga subarashiimono de arimasuyouni
(Selamat atas pernikahan anda. Semoga penuh dengan harapan indah bagi berdua)
– Kekkon omedetou gozaimasu. Ofutari de, nakayoku, atatakai katei o kizuiteitte
kudasai.
(Selamat atas pernikahan anda. Semoga berdua rukun selalu dan membentuk keluarga
yang menyenangkan)

loading...
Click to comment
To Top