Tinggal Hitungan Jam Indonesia Akan Mengalami “CHIBAKU TENSEI” – WarkopAnime.com
News & Info

Tinggal Hitungan Jam Indonesia Akan Mengalami “CHIBAKU TENSEI”

Gerhana Matahari Total (GMT) merupakan sebuah fenomena langka yang tidak hanya ditunggu-tunggu oleh para ilmuwan, tapi juga masyarakat di seluruh dunia. Fenomena ini tidak terjadi setahun sekali, tapi belasan atau bahkan ratusan tahun lagi baru akan terlihat, sehingga tak heran jika banyak orang yang kini bersiap-siap menyambut datangnya Gerhana Matahari Total yang akan terlihat pada 9 Maret 2016.

Menurut Kepala Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin, Jumat (22/1/2016), mengatakan daratan yang dilewati bayangan umbra saat gerhana matahari total (GMT) 2016 hanya di Indonesia dan akan berakhir di Samudera Pasifik.

gmtposter

Ada 11 provinsi di Indonesia, yakni Bengkulu, Sumatra Selatan, sebagian Jambi, Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Palangka Raya dan Sampit (Kalimantan Tengah), Balikpapan (Kalimantan Timur), sebagian Kalimantan Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Maluku Utara.

Lama Gerhana Matahari Total di Indonesia berkisar antara 1,5 hingga 3 menit. Kabarnya totalitas gerhana terlama terjadi di satu titik di atas Samudra Pasifik di utara Papua Nugini selama 4 menit 9 detik. Yang lebih istimewanya lagi adalah gerhana matahari yang terjadi pada Rabu, 9 Maret 2016 tersebut akan datang bersamaan dengan perayaan hari raya Nyepi. Dan di bawah ini adalah fakta menggemparkan tentang Gerhana Matahari Total 2016 yang wajib kamu baca.

 

Indonesia menjadi satu-satunya wilayah daratan yang dilalui oleh Gerhana Matahari Total 2016.

jalur GMT

Ada 12 provinsi di Indonesia yang akan dilalui oleh gerhana, yakni Sumatera Barat, Bengkulu, Jambi, Sumatera Selatan, dan Bangka Belitung. Selain itu, semua provinsi di Kalimantan (kecuali Kalimantan Utara), Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, dan Maluku Utara. Informasi Untuk kamu yang di luar daerah yang dilintasi jalur totalitas gerhana hanya akan bisa menikmati Gerhana Matahari Sebagian (GMS).

gmt

Gerhana Matahari Total 2016 hanya terjadi setiap 350 tahun.

gmt2

350 tahun setelah 9 Maret 2016? Pastinya itu adalah waktu yang sangat lama. Saking istimewanya fenomena langka tersebut, dikutip dari Antaranews.com, Kamis (25/2/2016) Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Stasiun Geofisika Padang Panjang, Sumatera Barat menyiapkan fasilitas siaran langsung melalui jaringan internet.

 

Gerhana Matahari Total (GMT) tidak seharusnya ditakuti, tapi dinikmati saja.

11 Juni 1983 GMT pernah menghebohkan masyarakat di Indonesia, pasalnya banyak masyarakat yang meyakini bahwa fenomena langka tersebut bisa membutakan mata. “Asal berhati-hati. Yang paling riskan adalah peralihan fase total ke fase sebagian, saat Bulan mulai bergeser, cahaya matahari yang walau baru muncul sedikit sudah sangat kuat. Padahal, pupil mata kita sedang membesar,” jelas Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin.

Sekali lagi, gerhana matahari adalah fenomena alam biasa. Tidak ada yang perlu ditakutkan tentang ini. Mungkin kalian pernah mendengar dari orang tua kalian, bahwa melihat gerhana matahari dapat membuat kebutaan. Salah. Tapi tunggu, jangan salahkan orang tua Anda karena ini. Melihat matahari secara langsung pada saat gerhana atau pada saat tidak gerhana sama saja: berbahaya bagi mata. Gangguan pada mata dapat terjadi akibat memandang matahari secara langsung. Namun gangguan ini tidak akan terjadi secara langsung, melainkan pada kemudian hari. Tenang dulu, ancaman gangguan pada mata ini bisa kita cegah dengan menggunakan kacamata khusus gerhana matahari.

 

Memori Kelam 1983

11 Juni 1983 bisa dipandang sebagai kekelaman bagi Indonesia. Kelam secara harfiah, ketika beberapa provinsi di Indonesia seperti Jawa Tengah dan Sulawesi Tenggara menjadi gelap karena mengalami gerhana matahari total. Namun, memori gerhana matahari total 1983 lebih dari sekedar gelap: kekelaman ilmu pengetahuan Indonesia. Ketika sekitar 1.000 astronom dari berbagai belahan dunia datang ke Indonesia untuk menyaksikan gerhana matahari, berjuta-juta masyarakat Indonesia malah meringkuk di dalam rumah.

Presiden Soeharto melalui Menteri Penerangan Harmoko pada kala itu memerintahkan agar masyarakat Indonesia tidak keluar rumah selama gerhana matahari terjadi. Alasannya: bisa menyebabkan kebutaan. Sudah saya ingatkan, jangan menyalahkan orang tua kalian jika mereka pernah menceritakan ini kepada kalian ketika waktu kamu kecil.

Ketika itu, aparat keamanan berpatroli, memastikan masyarakat benar-benar mengurung diri di dalam rumah. Satu-satunya stasiun televisi di Indonesia saat itu, Televisi Republik Indonesia, menayangkan siaran langsung dari Kompleks Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Pemerintah meminta masyarakat hanya menyaksikan gerhana matahari melalui siaran televisi. Saya membayangkan indahnya menyaksikan gerhana matahari total secara langsung di Kompleks Candi Borobudur! Berminat? Tunggu hingga tahun 2100!

 

Mitos Seputar Gerhana Matahari

Salah satu hal menarik dari gerhana matahari adalah mitos yang menyertai pemahaman masyarakat mengenai fenomena alam ini. Tidak hanya di Indonesia, masyarakat di belahan bumi lain pun memiliki mitos tersendiri soal gerhana matahari. Sebagian masyarakat Indonesia pernah meyakini bahwa hilangnya penampakan matahari dari bumi disebabkan oleh sesosok raksasa bernama Rau atau Batara Kala.

gmt4

Raksasa inilah yang pernah dijadikan kambing hitam dari gelapnya Indonesia ketika gerhana matahari terjadi. Mereka percaya, Batara Kala menelan Dewa Surya (matahari) dan Dewa Candra (bulan) karena bidadari khayangan incarannya bersembunyi di balik mereka. Cerita ini disebut berkembang di Indonesia ketika kebudayaan Hindu masuk ke Indonesia pada abad ketiga.

Di Tiongkok, mitos yang diyakini hampir serupa. Matahari ditelan oleh naga pada saat terjadi gerhana matahari. Pada saat itu, masyarakat Tiongkok membunyikan petasan dan bebunyian lain agar naga pergi dan memuntahkan kembali matahari yang ditelannya. Mitos naga menelan matahari ini akan dipentaskan di Palembang pada 9 Maret 2016, sebagai salah satu bentuk atraksi kebudayaan Tionghoa di sana.

 

Source : berbagai sumber yang telah dikutip dan dirangkum melalui Google
Image : via Google Image ( Kompas, Indonesia Travel, Detik Dan Pesona Indonesia )

loading...
Click to comment
To Top